Produk Anda ingin dilihat ribuan orang?
Tempatbagi.com siap membantu kolaborasi iklan yang menguntungkan. Kunjungi Kontak Kami.

Ketahui Sebab, Tanda, Tes, dan Perawatan Penyakit Asma Jantung

Penyakit Asma Jantung
Penyakit Asma Jantung

Penyakit Asma Jantung – Asma jantung adalah istilah yang menggambarkan gejala mirip asma, yang sering muncul pada kasus gagal jantung sisi kiri. Dalam kondisi ini, bilik jantung bagian bawah atau ventrikel kiri tidak mampu memompa darah secara efisien ke seluruh tubuh.

Akibatnya, kondisi ini dapat menyebabkan gejala pernapasan seperti sesak napas dan mengi, yang seringkali salah diartikan sebagai asma. Maka dari itu, terlepas dari namanya, asma jantung bukanlah bentuk dari asma.

AIGURU: Bikin Soal & RPP dalam Hitungan Menit!

Lebih lanjut, asma jantung menyebabkan kesulitan bernapas karena edema paru atau penumpukan cairan di paru-paru. Cairan ini berasal dari hipertensi pulmonal, yang terjadi akibat gagal jantung sisi kiri.

Penting untuk diingat, gagal jantung bukan berarti jantung berhenti berfungsi, melainkan tidak dapat memenuhi kebutuhan darah tubuh secara optimal.

Penyebab Penyakit Asma Jantung

Gagal jantung kiri terjadi saat curah jantung menurun, sehingga cairan menumpuk di tubuh. Akibatnya, penumpukan cairan di paru-paru (edema paru) dapat menyebabkan masalah pernapasan, karena saluran udara dan kantung udara kecil di paru-paru mulai terisi cairan.

Meskipun efek ini mungkin mirip dengan asma, namun peradangan dan penyempitan saluran udara yang menyebabkan asma.

Gagal jantung dapat menyerang siapa saja di usia berapa pun, tetapi lebih sering menyerang orang dewasa yang lebih tua. Oleh karena itu, asma jantung menjadi tanda peringatan gagal jantung.

Selain itu, beberapa faktor kesehatan dapat meningkatkan risiko asma jantung, antara lain:

  • Kondisi kesehatan yang memengaruhi otot jantung.
  • Penyakit katup jantung.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit arteri koroner.
  • Detak jantung tidak teratur, seperti detak jantung yang cepat.
  • Kondisi kesehatan yang didapat atau genetik yang menyebabkan kadar kolesterol dan trigliserida tinggi.
  • Anemia.
  • Tekanan tinggi di paru-paru.
  • Tiroid yang terlalu aktif.
  • Kelainan lahir yang memengaruhi fungsi jantung.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang.

Gejala Asma Jantung

Penyakit Asma Jantung

Gagal ventrikel kiri dapat menyebabkan gejala pernapasan yang mirip asma, terutama pada tahap awal penyakit. Sebagai contoh, Anda mungkin mengalami mengi, sesak dada, batuk, dan sesak napas.

Bahkan, gejala gagal jantung pada pernapasan bisa menjadi indikasi pertama atau paling utama bagi sebagian orang. Meskipun begitu, gejala ini sering muncul bersamaan dengan tanda lain yang mungkin terlewatkan atau disebabkan oleh kondisi lain, di antaranya:

  • Kelelahan kronis
  • Kelemahan terus-menerus
  • Sesak napas saat berbaring atau berolahraga
  • Kenaikan berat badan tak terduga dengan retensi cairan
  • Kurang nafsu makan atau mual
  • Pembengkakan jaringan, terutama pada ekstremitas bawah (edema)
  • Sulit berkonsentrasi
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur
  • Peningkatan frekuensi kencing pada malam hari (nokturia)
Baca juga :  Waspada! 8 Makanan Kolesterol Tinggi yang Wajib Anda Hindari

Oleh karena itu, jika gejala-gejala di atas menetap atau memburuk, kondisi ini mungkin mengindikasikan penyakit selain asma. Selain itu, perlu diingat bahwa asma jantung umumnya lebih sering menyerang lansia.

Diagnosis Asma Jantung

Mendiagnosis penyakit asma jantung memang menantang karena gejalanya mirip asma, sehingga sering menyebabkan kesalahan diagnosis.

Untuk membedakannya, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan dan faktor risiko Anda terlebih dahulu. Tujuannya untuk menentukan apakah gagal jantung menjadi penyebab gejala Anda.

Selanjutnya, beberapa tes dapat membantu mendiagnosis gagal jantung, meliputi:

  • Pemeriksaan Fisik: Dokter mencari tanda-tanda asma jantung dan indikator gagal jantung lainnya, seperti suara abnormal di paru-paru saat bernapas dan detak jantung yang tidak normal.
  • Tes Darah: Tes ini membantu mendiagnosis kondisi yang dapat menyebabkan gagal jantung. Selain itu, tes ini memeriksa tanda-tanda peningkatan cairan dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala Anda.
  • Elektrokardiogram (EKG): Dokter memantau aktivitas listrik jantung Anda dan mengidentifikasi kelainan pada ritme jantung.
  • Ekokardiogram: Ini adalah jenis USG yang menghasilkan gambaran jantung. Gambar ini dapat menunjukkan seberapa banyak darah yang jantung Anda pompa dan melakukan skrining ketidakteraturan atau kelainan pada fungsi pemompaan.
  • Rontgen Dada: Dokter mengidentifikasi pembesaran jantung atau cairan di paru-paru Anda.
  • Tes Pernapasan: Dokter mungkin merekomendasikan tes spirometri atau tes peak flow untuk menyaring masalah paru-paru.
  • Teknik Pencitraan Lainnya: CT atau MRI dapat menghasilkan gambar untuk menilai kesehatan jantung Anda.

Lebih lanjut, salah satu cara dokter membedakan antara sesak napas akibat asma jantung dan asma biasa adalah dengan memeriksa kadar peptida natriuretik, seperti BNP atau NT-proBNP dalam darah. Jantung melepaskan zat ini saat mengalami tekanan atau bekerja terlalu keras.

Pada penderita gagal jantung (termasuk yang mengalami asma jantung), kadarnya akan meningkat tinggi. Sebaliknya, pada asma biasa, kadarnya tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu, pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah sesak napas Anda disebabkan oleh masalah jantung atau paru-paru.

Pengobatan Asma Jantung

Pengobatan asma jantung bertujuan utama untuk mengatasi gagal jantung dan penumpukan cairan di paru-paru.

Dalam kondisi darurat, dokter mungkin menggunakan beberapa obat seperti morfin, furosemide atau diuretik, dan nitrogliserin.

Baca juga :  Bedak Wardah, Bedak yang Tahan Lama dan Glowing

Setelah itu, ketika kondisi pasien stabil, dokter mungkin memberikan ACE inhibitor atau beta-blocker (atau kombinasi keduanya) guna mencegah kambuh. ACE inhibitor membantu memperlebar pembuluh darah, sementara beta-blocker memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah.

Apabila pasien tidak mendapatkan cukup oksigen, dokter dapat memberikan oksigen tambahan atau ventilator noninvasif. Dalam kasus yang parah, pemasangan tabung pernapasan mungkin diperlukan. Namun, jika pasien masih bisa bernapas baik dan mendapatkan cukup oksigen, tindakan ini tidak selalu dibutuhkan.

Beberapa pasien mungkin memerlukan prosedur angioplasti atau bypass koroner guna meningkatkan aliran darah ke jantung dan memperkuat fungsinya. Jika semua metode gagal, opsi terakhir adalah transplantasi jantung.



Pasien gagal jantung simtomatik—mereka yang sudah mengalami gejala seperti sesak napas, mudah lelah, atau pembengkakan pada kaki—memiliki risiko kematian dalam satu tahun sekitar 20–30 persen. Artinya, dari 100 pasien dengan gagal jantung simtomatik, sekitar 20–30 di antaranya bisa meninggal dalam setahun.

Kondisi ini menegaskan pentingnya diagnosis dini dan terapi tepat waktu agar kualitas hidup pasien meningkat dan risiko kematian bisa ditekan sedini mungkin.

Inovasi Obat dan Perhatian Khusus

Obat-obatan seperti SGLT2-inhibitor (misalnya dapagliflozin dan empagliflozin) kini tak hanya digunakan untuk diabetes, tetapi juga terbukti efektif mengurangi risiko pasien gagal jantung masuk rumah sakit kembali. Berdasarkan studi, obat ini bisa menurunkan angka rawat ulang hingga 25–35 persen pada orang dengan gagal jantung.

Lebih lanjut, ARNI (kombinasi obat ARB dan neprilysin inhibitor) juga dapat direkomendasikan dalam panduan pengobatan gagal jantung karena mampu membantu memperbaiki fungsi jantung dan menurunkan risiko kekambuhan.

Obat agonis beta seperti salbutamol biasanya digunakan untuk melegakan sesak napas pada asma karena bekerja dengan melebarkan saluran pernapasan. Namun, pada pasien dengan asma jantung yang juga mengalami detak jantung sangat cepat (takikardia) atau gangguan irama jantung berat (aritmia), penggunaan obat agonis beta dosis tinggi bisa berbahaya.

Obat ini bisa memicu jantung berdetak makin cepat dan tidak beraturan, sehingga memperburuk kondisi jantung. Oleh karena itu, dokter biasanya sangat berhati-hati atau bahkan menghindari pemberian obat agonis beta dosis tinggi pada pasien dengan kondisi jantung seperti ini.

Gaya Hidup Sehat untuk Asma Jantung

Menjalani pola hidup sehat dapat membantu mengurangi gejala gagal jantung atau mencegahnya sejak awal. Beberapa langkah yang bisa Anda lakukan meliputi:

  • Rutin berolahraga.
  • Tidak merokok.
  • Membatasi konsumsi alkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Tidur cukup.
  • Mempertahankan berat badan ideal.
Baca juga :  5 Alasan Takut Berciuman, Bukan Karena Tidak Cinta!

Pencegahan Asma Jantung

Untuk mencegah asma jantung, kita perlu mengurangi risiko gagal jantung. Pasalnya, gagal jantung menjadi penyebab utama asma jantung.

Berikut langkah-langkahnya:

  • Kelola tekanan darah tinggi dan diabetes Anda.
  • Pertahankan berat badan yang sehat.
  • Atasi stres dengan baik.
  • Rutinlah berolahraga.
  • Konsumsi makanan yang baik untuk jantung, seperti buah-buahan dan sayuran.
  • Hindari produk tembakau.
  • Batasi atau jauhi alkohol.
  • Jauhi narkoba.

Penyakit asma jantung adalah kondisi yang disebabkan oleh gagal jantung, yang kemudian menimbulkan gejala mirip asma seperti mengi, batuk, dan kesulitan bernapas. Hal ini terjadi karena penumpukan cairan di paru-paru akibat ketidakmampuan jantung memompa cairan secara efektif.

Meskipun demikian, asma jantung seringkali salah didiagnosis sebagai asma biasa. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat sangat penting untuk mendapatkan penanganan yang efektif.


Referensi

“What Is Cardiac Asthma?” Verywell Health. Diakses Juni 2025.

“Cardiac Asthma: Mengenal Lebih Dalam Penyakit Lama dengan Perspektif Baru.” Kemenkes Ditjen Yankes. Diakses Mei 2024.

Tanabe, T., Kanoh, S., et al. (2012). “Cardiac asthma. Chest, 142(5), 1274–1283. https://doi.org/10.1378/chest.11-1710

Jorge, S., Becquemin, M., et al. (2007). Cardiac asthma in elderly patients: incidence, clinical presentation and outcome. BMC Cardiovascular Disorders, 7(1). https://doi.org/10.1186/1471-2261-7-16

Mark H. J. Litzinger, et al. (2013, February 20). Cardiac Asthma: Not Your Typical Asthma. U.S. Pharmacist. Retrieved May 2024, from https://www.uspharmacist.com/article/cardiac-asthma-not-your-typical-asthma

“Everything You Need to Know About Cardiac Asthma.” Healthline. Diakses Juni 2025.

Hersunarti, Nani, and M. Saifur Rohman. 2007. “Literature Review Pemeriksaan BNP atau NT pro BNP pada Pasien Gagal Jantung.” Jurnal Kardiologi Indonesia 28 (3): 229-232.

“Brain natriuretic peptide.” Patient. Diakses Juni 2025.

“How Long Can You Live with Congestive Heart Failure?” Verywell Health. Diakses Juni 2025.

Sofia Brito, Moonki Baek, and Bum-Ho Bin, “Skin Structure, Physiology, and Pathology in Topical and Transdermal Drug Delivery,” Pharmaceutics 16, no. 11 (October 31, 2024): 1403, https://doi.org/10.3390/pharmaceutics16111403.

Bytyçi, Ibadete, and Gani Bajraktari. 2015. “Mortality in Heart Failure Patients.” Anatolian Journal of Cardiology 15 (1): 63–68. https://doi.org/10.5152/akd.2014.5731.

Talha, Khawaja M., Stefan D. Anker, and Javed Butler. 2023. “SGLT-2 Inhibitors in Heart Failure: A Review of Current Evidence.” International Journal of Heart Failure 5 (2): 82–90. https://doi.org/10.36628/ijhf.2022.0030.



AIGURU: Bikin Soal & RPP dalam Hitungan Menit!

Novel KLEPON: Aroma Garis Waktu