Seorang remaja laki-laki berusia 19 tahun, sebelumnya mengalami kehilangan ingatan bertahap dan kesulitan berkonsentrasi sejak usia 17 tahun. Akibatnya, ia tidak dapat mengingat letak barang-barangnya atau kejadian hari sebelumnya. Selain itu, ia juga mengalami kesulitan membaca dan gangguan ingatan yang parah. Lantas, apakah ini demensia?
Selanjutnya, peneliti melakukan pengujian dan mendiagnosisnya dengan kemungkinan penyakit Alzheimer. Menariknya, laporan kasus ini diterbitkan dalam Journal of Alzheimer’s Disease pada Desember 2022.
Oleh karena itu, dari kasus di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa demensia secara signifikan memengaruhi kualitas hidup, kemampuan bersosialisasi, dan aktivitas sehari-hari pasien.
Jadi, apa sebenarnya demensia itu? Apa saja gejala dan penyebab demensia yang harus kita kenali? Mari kita ulas tuntas di bawah ini!
Apa Itu Demensia?
Demensia adalah penyakit degeneratif yang bersifat progresif. Kondisi ini merusak sel saraf otak, sehingga menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Selain itu, demensia juga dapat disertai perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Fungsi kognitif mencakup lima domain utama: atensi, memori, bahasa, visuospasial, dan fungsi eksekutif. Oleh karena itu, demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah yang menggambarkan sekumpulan gejala yang mengganggu fungsi kognitif otak.
Meskipun sering dikaitkan dengan kondisi pikun, namun tidak semua orang yang pikun (sering lupa) mengalami demensia.
Pasalnya, pikun adalah penurunan daya ingat yang umumnya disebabkan oleh usia yang menua.
Tingkat keparahan demensia bervariasi, dari ringan hingga berat. Pada kasus yang berat, demensia dapat mengubah perilaku seseorang sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, kondisi ini terkadang membahayakan orang tersebut maupun orang lain.
Penyakit yang menyerang otak ini bersifat progresif, artinya kondisinya memburuk seiring berjalannya waktu.
Meskipun umumnya memengaruhi lansia, demensia bukanlah bagian normal dari penuaan. Pada tahun 2021, diperkirakan 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia. Menariknya, lebih dari 60 persen di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun ada hampir 10 juta kasus baru.
Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum, bahkan berkontribusi pada 60–70 persen kasus.
Demensia adalah salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan di kalangan lansia. Kondisi ini juga memiliki dampak fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang tidak hanya dirasakan oleh penderita, tetapi juga pengasuh, keluarga, dan masyarakat luas.
Penyebab Demensia, Kerusakan Saraf Otak dan Faktor Pemicu

Secara umum, kerusakan atau hilangnya sel saraf dan koneksinya di otak menyebabkan demensia. Kerusakan ini memicu berbagai tingkat keparahan dan gejala yang berbeda, bergantung pada area otak yang terpengaruh.
Adapun, penyebab paling umum demensia meliputi:
- Penyakit neurologis degeneratif: Penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, Huntington, dan beberapa jenis multiple sclerosis merusak otak seiring waktu.
- Gangguan pembuluh darah: Kondisi ini mempengaruhi sirkulasi darah di otak, sehingga merusak jaringan otak.
- Cedera otak traumatis: Kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, dan gegar otak dapat menyebabkan cedera otak yang memicu demensia.
- Infeksi pada sistem saraf pusat: Penyakit seperti meningitis, HIV, dan Creutzfeldt-Jakob menyerang sistem saraf pusat, berpotensi merusak otak.
- Penggunaan alkohol atau narkotika jangka panjang: Konsumsi berlebihan zat-zat ini secara signifikan merusak sel-sel otak.
- Hidrosefalus tertentu: Penumpukan cairan di otak menekan dan merusak jaringan otak.
Selain itu, faktor fisik dan gaya hidup tertentu meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia, antara lain:
- Usia: Risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia.
- Riwayat demensia dalam keluarga: Jika ada riwayat demensia dalam keluarga, kemungkinan Anda juga memiliki risiko lebih tinggi.
- Penyakit kronis: Diabetes, sindrom Down, penyakit jantung, dan sleep apnea dapat memengaruhi kesehatan otak dan meningkatkan risiko demensia.
- Depresi: Kondisi ini berpotensi memengaruhi fungsi kognitif dan meningkatkan kerentanan terhadap demensia.
- Gaya hidup tidak sehat: Merokok, penggunaan alkohol berlebihan, pola makan buruk, dan kurangnya aktivitas fisik berkontribusi pada kerusakan otak jangka panjang.
Jenis-jenis Demensia, Memahami Ragam Kondisi Neurologis
Demensia, sebuah kondisi neurologis yang kompleks, memiliki berbagai jenis dengan karakteristik unik.
Jenis Demensia Utama
Pertama, mari kita pahami beberapa bentuk utamanya. Penyakit Alzheimer, misalnya, dicirikan oleh plak dan kekerutan yang terbentuk di otak akibat protein abnormal. Seiring waktu, kondisi ini menyebabkan sel saraf dan koneksi di otak berkurang drastis, sehingga mengakibatkan penyusutan ukuran otak secara keseluruhan.
Selanjutnya, ada demensia Lewy body, suatu kondisi neurodegeneratif yang terkait dengan struktur abnormal di otak, melibatkan protein alpha-synuclein.
Kemudian, kita mengenal demensia kombinasi, di mana seseorang mungkin didiagnosis dengan dua atau bahkan tiga jenis demensia secara bersamaan, seperti penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.
Tak hanya itu, penyakit Parkinson, meskipun sering dianggap sebagai gangguan pergerakan, juga dapat memicu gejala demensia, seringkali ditandai dengan keberadaan Lewy body.
Terakhir dalam kategori ini, penyakit Huntington dikenali dari gerakan tidak terkontrol dan juga termasuk jenis demensia.
Gangguan Terkait Demensia
Selain jenis-jenis utama di atas, beberapa gangguan lainnya juga dapat menyebabkan gejala demensia.
Salah satunya adalah demensia frontotemporal, yang juga dikenal sebagai penyakit Pick.
Selain itu, hidrosefalus tekanan normal terjadi ketika kelebihan cairan serebrospinal menumpuk di otak.
Kemudian, atrofi kortikal posterior menunjukkan perubahan serupa dengan penyakit Alzheimer, tetapi memengaruhi bagian otak yang berbeda.
Terakhir, sindrom Down meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit Alzheimer di usia muda.
Tahapan Gejala Demensia

Demensia memengaruhi setiap individu secara unik, bergantung pada dampak penyakit dan kepribadian seseorang sebelum sakit. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa tanda dan gejala demensia dapat kita bagi menjadi tiga tahap.
Tahap Awal
Pada tahap awal, orang sering melewatkan gejala demensia karena kemunculannya bertahap. Biasanya, gejala umum mencakup:
- Sering lupa.
- Lupa waktu.
- Tersesat di tempat yang sudah dikenal.
Tahap Menengah
Selanjutnya, saat demensia berkembang ke tahap menengah, tanda dan gejala akan menjadi lebih jelas serta lebih membatasi. Ini termasuk:
- Melupakan peristiwa yang baru dialami dan nama-nama orang.
- Tersesat di rumah.
- Meningkatnya kesulitan dalam berkomunikasi.
- Membutuhkan bantuan dengan perawatan pribadi.
- Mengalami perubahan perilaku, seperti suka keluyuran dan bertanya berulang-ulang.
Tahap Akhir
Akhirnya, pada tahap akhir, pasien menunjukkan ketergantungan dan ketidakaktifan yang hampir total. Pada fase ini, gangguan ingatan serius dan tanda serta gejala fisik menjadi lebih jelas, yang dapat meliputi:
- Tidak sadar akan waktu dan tempat.
- Kesulitan mengenali kerabat dan teman.
- Peningkatan kebutuhan untuk perawatan diri.
- Kesulitan dalam berjalan.
- Mengalami peningkatan perubahan perilaku yang mungkin termasuk agresi.
Diagnosis
Pada tahap awal, dokter mendiagnosis pasien dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien dan keluarga, kemudian melakukan pemeriksaan fisik. Selanjutnya, dokter melanjutkan dengan pemeriksaan kognitif.
Untuk penapisan, dokter sering menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Selain itu, mereka juga memanfaatkan tes lain seperti Montreal Cognitive Assessment (MoCA), Clock Drawing Test (CDT), dan berbagai tes lainnya.
Selain itu, dokter juga memerlukan pemeriksaan penunjang, termasuk pemeriksaan laboratorium dan radiologi seperti CT scan atau MRI kepala.
Risiko Komplikasi yang Perlu Anda Tahu

Demensia secara signifikan memengaruhi aktivitas harian pasien. Akibatnya, pasien berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi.
- Malnutrisi: Pertama, banyak pasien demensia mengalami penurunan nafsu makan, yang kemudian memengaruhi asupan nutrisi esensial mereka.
- Radang Paru-paru (Pneumonia): Selain itu, demensia menyebabkan kesulitan menelan, sehingga meningkatkan risiko tersedak atau menghirup makanan ke paru-paru. Hal ini dapat menyumbat saluran pernapasan dan memicu pneumonia.
- Kesulitan Merawat Diri: Selanjutnya, gangguan sel saraf akibat demensia menimbulkan tantangan dalam aktivitas sehari-hari seperti mandi, berpakaian, menyikat rambut atau gigi, menggunakan toilet, dan mengonsumsi obat secara akurat.
- Masalah Keamanan: Tak hanya itu, demensia juga menciptakan masalah keamanan dalam situasi harian, termasuk saat mengemudi, memasak, dan berjalan sendirian.
- Kematian: Pada akhirnya, demensia stadium akhir sering kali menyebabkan koma dan kematian, umumnya dipicu oleh infeksi.
Pengobatan Demensia
Pengobatan demensia sangat bergantung pada penyebabnya. Pada kasus demensia paling progresif, termasuk penyakit Alzheimer, sayangnya belum ada obat yang mampu menyembuhkan saat ini. Oleh karena itu, dokter memberikan pengobatan yang bertujuan untuk memperlambat progresivitas penyakit, mempertahankan kualitas hidup pasien, dan mengobati penyakit penyerta yang mungkin timbul.
Pencegahan dan Langkah-Langkah Penting yang Bisa Anda Ambil

Meskipun tidak ada cara pasti mencegah demensia, kamu bisa mengambil beberapa langkah penting untuk mengurangi risikonya. Pertama, jaga pikiran tetap aktif; stimulasi mental melalui membaca, puzzle, permainan kata, dan latihan memori terbukti menunda timbulnya demensia dan mengurangi dampaknya.
Selanjutnya, aktiflah secara fisik dan sosial karena kedua aktivitas ini memperlambat serta menurunkan gejala awalnya. Targetkan untuk berolahraga rutin 150 menit setiap minggu.
Selain itu, segera berhenti merokok. Beberapa studi menunjukkan bahwa merokok di usia paruh baya dan seterusnya secara signifikan meningkatkan risiko dan kondisi vaskular. Untungnya, berhenti merokok akan mengurangi risiko dan meningkatkan kesehatanmu secara keseluruhan. Penting juga untuk mencukupi asupan vitamin.
Studi menemukan bahwa individu dengan kadar vitamin D rendah dalam darah lebih mungkin mengembangkan penyakit Alzheimer dan berbagai bentuk demensia lainnya. Pastikan juga kamu memenuhi kebutuhan vitamin C dan B kompleks.
Kemudian, kelola faktor risiko kardiovaskular secara proaktif. Segera obati tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan indeks massa tubuh (BMI) tinggi.
Perlu diingat, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko beberapa jenis demensia, meskipun diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah pengobatannya dapat secara langsung mengurangi risiko. Manajemen stres yang baik juga krusial; konsultasikan dengan dokter jika kamu mengalami depresi atau kecemasan.
Lebih lanjut, terapkan pola makan sehat seimbang, seperti diet Mediterania yang kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, dan asam lemak omega-3. Pola makan ini tidak hanya baik untuk otak, tetapi juga meningkatkan kesehatan kardiovaskular, yang pada gilirannya membantu mengurangi risiko demensia.
Terakhir, pastikan kamu mendapatkan tidur berkualitas. Apabila kamu mengorok dengan keras atau mengalami henti napas saat tidur, segera konsultasikan dengan dokter.
Itulah informasi lengkap seputar penyebab, gejala, jenis, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan demensia. Ingat, demensia bukanlah proses penuaan yang normal. Jika kamu atau orang terdekatmu menunjukkan gejala, segera periksakan ke dokter. Ambil tindakan sekarang untuk mencegahnya dengan menerapkan pola hidup aktif dan sehat!
Referensi
Jianping Jia et al., “A 19-Year-Old Adolescent With Probable Alzheimer’s Disease1,” Journal of Alzheimer’s Disease 91, no. 3 (December 20, 2022): 915–22, .
“Dementia.” World Health Organization. Diakses Mei 2025.
“Dementia.” WebMD. Diakses Mei 2025.
“What is dementia? Symptoms, stages, types, and more.” Medical News Today. Diakses Mei 2025.
“What is Dementia?” Alzheimer’s Association. Diakses Mei 2025.
“Dementia.” Mayo Clinic. Diakses Mei 2025.



























