Produk Anda ingin dilihat ribuan orang?
Tempatbagi.com siap membantu kolaborasi iklan yang menguntungkan. Kunjungi Kontak Kami.

Rudal Hipersonik Iran Serang Israel, Inilah Cara Kerjanya

Rudal Hipersonik Iran
Rudal Hipersonik Iran


Rudal Hipersonik Iran – Sebagai respons langsung terhadap serangan Israel, Iran menembakkan ratusan rudal balistik ke wilayah Israel dalam beberapa hari pertama bentrokan. Akibatnya, ketegangan di kawasan itu meningkat drastis.

Menurut laporan Hindustan Times, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa mereka menggunakan rudal balistik hipersonik andalannya, Fattah, dalam serangan terhadap beberapa sasaran di Israel pada Rabu dini hari, 18 Juni 2025. Dengan demikian, Iran menunjukkan kapabilitas militer canggih mereka.

AIGURU: Bikin Soal & RPP dalam Hitungan Menit!

Perlu diketahui, Fattah-1 adalah rudal hipersonik jarak menengah pertama buatan IRGC. Rudal ini mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 5 (lima kali kecepatan suara) dan memiliki tingkat manuver yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sistem radar dan pertahanan udara sulit mendeteksi atau mengintersepsi rudal ini.

Secara spesifik, rudal hipersonik Iran ini dikenal karena kecepatannya yang luar biasa, ketepatan yang tinggi, dan kemampuannya untuk mengubah arah saat terbang. Selain itu, Fattah-1 memiliki panjang sekitar 12 meter dan mampu mencapai sasaran sejauh 1.400 kilometer. Adapun, rudal ini menggunakan bahan bakar padat satu tahap dan dirancang untuk membawa hulu ledak seberat 200 kilogram.

Mekanisme Rudal Hipersonik Iran

Menurut euro-sd.com, kita dapat menjelaskan dua jenis utama rudal hipersonik yang dikenal luas. Pertama, ada Kendaraan Luncur Hipersonik (HGV). Rudal ini meluncur melalui jalur balistik standar sebelum melepaskan bagian kendaraan luncurnya.

Setelah terpisah dari roket pendorong, kendaraan yang umumnya tanpa mesin ini melanjutkan perjalanan menuju target dengan kecepatan hipersonik. Caranya, ia memanfaatkan dorongan awal, gaya aerodinamis, serta gravitasi, sehingga mampu bermanuver selama penerbangan.

Selanjutnya, jenis kedua adalah Rudal Jelajah Hipersonik Bernapas Udara (HCM). Rudal ini memiliki konsep yang mirip dengan rudal jelajah konvensional. Namun, ia biasanya menggunakan pendorong roket terlebih dahulu untuk mencapai kecepatan supersonik. Setelah itu, mesin scramjet mengambil alih untuk menjaga kecepatan hipersonik selama sisa perjalanan menuju sasaran.

Baca juga :  Mengatasi Whatsapp Voice Note Tidak Ada Suara

Secara umum, kita mengklasifikasikan rudal hipersonik berdasarkan kecepatannya yang melebihi Mach 5, atau sekitar 6.175 km/jam. Akan tetapi, definisi rudal hipersonik tidak hanya bergantung pada kecepatannya saja. Melainkan, ia juga mempertimbangkan kemampuannya untuk bermanuver dan memiliki pola penerbangan tertentu.

Maka dari itu, kedua jenis rudal hipersonik ini membutuhkan udara untuk beroperasi dan bermanuver. Inilah yang membedakannya dari rudal balistik tradisional.

Peluncuran dan Manuver Awal HGV

Pertama, roket pendorong konvensional meluncurkan HGV secara vertikal, membentuk lintasan melengkung menuju sasaran. Kemudian, pada ketinggian sekitar 40 hingga 100 kilometer, kendaraan luncur ini terpisah dari roket pendorong dan memasuki kembali atmosfer. Setelah itu, kecepatannya mulai menurun, dan kendaraan tersebut melakukan manuver pull-up untuk menyesuaikan posisi serta menstabilkan jalur terbangnya.

Penting untuk dicatat, proses pemisahan dari pendorong dan manuver pull-up menciptakan tekanan besar pada kendaraan. Oleh karena itu, pemisahan yang stabil sangat penting agar kendaraan tidak kehilangan kendali. Selanjutnya, tahapan penerbangan setelah pemisahan ini kita kenal sebagai fase luncur, yang jelas berbeda dari pola terbang rudal balistik tradisional.

Pada rudal balistik konvensional, dorongan hanya mereka gunakan di fase awal penerbangan. Setelahnya, rudal melaju berdasarkan momentum tanpa tambahan tenaga. Berbeda dengan itu, HGV memanfaatkan gaya angkat aerodinamis untuk mempertahankan penerbangan dan memperluas jangkauan setelah manuver pull-up.

Menjelang akhir penerbangan, HGV menukik ke arah target. Secara signifikan, jarak tempuh dan kecepatannya sangat bergantung pada rasio antara gaya angkat dan hambatan udara. Idealnya, wahana luncur mampu menciptakan daya angkat yang cukup untuk tetap stabil dan bermanuver, sambil mengurangi hambatan udara semaksimal mungkin.


Baca juga :  Snow Kei 2 Font (FREE), Upgrade Fitur yang Luar Biasa dari Font Snow Kei

Ketinggian, Kecepatan, dan Jangkauan HGV

Seiring dengan penurunan kecepatan, kendaraan luncur perlu turun ke ketinggian lebih rendah dengan udara yang lebih padat agar tetap menghasilkan gaya angkat. Namun, hal ini juga meningkatkan hambatan udara dan memperlambat laju terbang.

Maka dari itu, semakin tinggi titik awal luncur dan semakin besar kecepatannya, semakin jauh jangkauan yang bisa dicapai. Sebagai contoh, simulasi komputer menunjukkan bahwa jika diluncurkan dari ketinggian 47 km dengan kecepatan 6 km/detik (sekitar Mach 17), rudal semacam ini dapat menempuh jarak lebih dari 7.000 km.

Kecepatan pada akhir fase dorongan sangat krusial bagi kendaraan luncur hipersonik, terutama dalam konteks konsep operasi (CONEMP) yang menjadi dasar pengembangannya.

Sederhananya, ide di balik pengembangan ini adalah bahwa sistem pertahanan udara berlapis milik Rusia dan Tiongkok, serta kemampuan serangan jarak jauhnya, kemungkinan akan memaksa Amerika Serikat untuk melancarkan serangannya dari luar jangkauan sistem pertahanan tersebut. Dengan demikian, serangan itu harus dilakukan dengan sangat cepat agar efektif.

Oleh karena itu, kecepatan pada akhir fase dorongan, bersama dengan ketinggian saat pemisahan dari roket pendorong, menjadi faktor penentu sejauh mana kendaraan luncur bisa melaju. Maka dari itu, aspek desain ini sangat penting untuk memastikan kinerja optimal.

HCM

HCM (Hypersonic Cruise Missile) beroperasi secara berbeda dari kendaraan luncur hipersonik. Senjata ini menggunakan tenaga, biasanya memulai dengan pendorong roket untuk mencapai kecepatan supersonik. Selanjutnya, mesin scramjet mempercepatnya hingga kecepatan hipersonik dan mempertahankan kecepatan tersebut selama penerbangan.

Banyak pengujian menunjukkan bahwa militer sering memasang HCM pada pesawat jet untuk memberikan dorongan awal peluncuran dan menggunakannya sebagai platform utama.

Baca juga :  Merawat Jam Tangan: Rahasia agar Tetap Awet Bertahun-tahun!

Sebagai contoh, Rudal Jelajah Serangan Hipersonik (HACM) yang tengah Amerika Serikat kembangkan dirancang untuk meluncur dari pesawat F-15E Strike Eagle. Selain itu, pemerintah berencana mengintegrasikannya juga ke B-1 Lancer, B-2 Spirit, dan B-52 Stratofortress.

Melalui kerja sama SCIFiRE, Australia juga akan mengoperasikan HACM dari F/A-18F Super Hornet, dengan potensi integrasi ke E/A-18G Growler, F-35A Lightning II, dan P-8A Poseidon milik Angkatan Udara Kerajaan Australia (RAAF).

Sama seperti HGV, HCM juga menghadapi panas ekstrem. Namun, tantangan termal pada HCM berbeda karena selain panas dari gesekan udara luar, juga terdapat panas dari pembakaran bahan bakar di dalam scramjet. Oleh karena itu, militer melapisi bagian antara mesin dan badan rudal dengan bahan khusus.

Mengingat HCM terbang pada kecepatan Mach 5, ia menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda dengan HGV pada Mach 20, sehingga pelindung panas pada HCM tidak perlu setangguh milik HGV.

Mesin Scramjet pada HCM

Mesin scramjet adalah komponen paling penting dalam HCM, meskipun sangat sulit dikuasai. Pratt & Whitney, misalnya, telah mengembangkan scramjet sejak tahun 1960-an, dan terus menyempurnakannya hingga awal 2000-an. Faktanya, salah satu uji coba dengan scramjet, X-51 Waverider, menelan biaya sekitar USD 300 juta untuk empat kendaraan uji, dan tiga di antaranya gagal.

Beberapa HCM didesain dengan bentuk waverider, yakni badan rudal ramping dengan scramjet di bagian bawahnya. Karena tidak terbang secepat HGV, rudal ini mempunyai sensor optik untuk mendeteksi target. Oleh karena itu, HCM cocok untuk menghantam sasaran penting seperti kapal perang atau peluncur rudal darat jika militer memadukannya dengan data target yang akurat dan pencari canggih.

Meskipun HCM memiliki kecepatan jauh lebih tinggi dengan rudal jelajah biasa yang membuatnya efektif menembus sistem pertahanan udara, keberhasilan serangannya tetap bergantung pada akurasi dan efektivitas hulu ledaknya.



AIGURU: Bikin Soal & RPP dalam Hitungan Menit!

Novel KLEPON: Aroma Garis Waktu