Pengasuhan anak selalu melibatkan banyak pihak, terutama kakek dan nenek. Belakangan ini, di kalangan orang tua milenial, muncul istilah yang viral: “Gramnesia”.
Istilah ini secara tepat menggambarkan situasi ketika kakek dan nenek seolah lupa dengan tantangan dan praktik terbaru dalam merawat anak kecil. Mereka sering memberikan saran pengasuhan yang sudah tidak relevan dengan zaman modern.
Lantas, bagaimana orang tua milenial menyikapi perbedaan pandangan ini? Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena Gramnesia dan menawarkan strategi komunikasi yang efektif.
Mengapa ‘Gramnesia’ Sering Memicu Konflik Pengasuhan?
Gramnesia menggambarkan keadaan di mana generasi grandparent lupa rasanya merawat anak kecil di tengah tuntutan dan metode modern. Meskipun niat mereka baik, tindakan dan saran tersebut justru bisa membuat orang tua muda merasa kewalahan dan tertekan.
Sebagai contoh, kakek-nenek sering membandingkan pengalaman mereka dengan cara pengasuhan generasi muda, cenderung menganggap anak-anak sekarang lebih mudah diatur. Akibatnya, komentar atau saran yang mereka berikan bisa membuat generasi muda merasa tersudutkan.
Perbedaan perspektif ini seringkali menimbulkan frustrasi dan kebingungan dalam pengasuhan sehari-hari. Meskipun demikian, fenomena ini juga membuka kesempatan berharga untuk saling belajar; orang tua muda dan kakek-nenek dapat berdiskusi langsung agar metode pengasuhan yang baru tetap dihargai.
Pola Intervensi Kakek-Nenek dalam Kehidupan Sehari-hari
Faktanya, Gramnesia sering kali terlihat dari ketidakmampuan kakek-nenek menyesuaikan diri dengan metode pengasuhan anak masa kini. Hal ini biasanya tampak jelas ketika mereka mencoba memberikan saran atau ikut campur berdasarkan pengalaman pengasuhan mereka sendiri.
Sebagai ilustrasi, seorang ibu dua anak bernama Jenny berbagi pengalamannya saat sang ibu memberikan potongan sosis utuh kepada anaknya yang baru berusia satu tahun. “Saya harus langsung lari ke kamar karena dia mulai tersedak,” ungkapnya. “Rasanya seperti saya tidak bisa beristirahat. Kedua nenek jelas lupa praktik penting, atau mengabaikannya karena mereka merasa ‘membesarkan anak-anak yang ternyata baik-baik saja’.”
Selain itu, hal ini juga terlihat dari cara kakek-nenek menilai pilihan pengasuhan yang orang tua muda jalankan; mereka sering membandingkannya dengan pengalaman pribadi dan menganggap metode lama lebih efektif.
Nostalgia Pengasuhan, Alasan Kakek-Nenek Selektif Mengingat
Secara psikologis, kakek-nenek cenderung lebih mengingat momen yang menyenangkan daripada kesulitan saat membesarkan anak. Menurut Stephanie Wijkstrom, seorang psikolog dan pendiri Counseling and Wellness Center of Pittsburgh, hal ini wajar terjadi karena ingatan secara alami menyaring pengalaman yang paling positif.
“Mereka sering bilang bahwa semua hal terkait melahirkan dan membesarkan anak bisa mudah dilupakan, dan itu hal yang bagus karena memungkinkan kita melakukannya lagi,” jelasnya. “Kakek-nenek melihat parenting dengan rasa nostalgia, mengabaikan bagian yang sulit, sehingga mereka bisa fokus pada hal-hal indah yang menyertainya.”
Perlu dicatat, orang tua dulu tidak punya banyak platform untuk berbagi pengalamannya di media sosial. Oleh karena itu, wajar saja jika sebagian tantangan itu akhirnya terlupakan.
Strategi Menghadapi ‘Amnesia Selektif’ dalam Keluarga
Amnesia selektif pada kakek-nenek membuat mereka lebih mudah melupakan tantangan saat merawat anak. Kondisi ini bisa terasa menyakitkan dan menjengkelkan bagi orang tua muda yang berusaha menyeimbangkan cara pengasuhan lama dan baru.
Meskipun demikian, amnesia selektif yang niatnya baik ini tetap bisa menimbulkan friksi dalam hubungan keluarga. Psikolog Stephanie Wijkstrom menyarankan agar orang tua muda membicarakan perasaan ini secara terbuka. “Cari waktu terpisah untuk jujur tentang mengapa komentar mereka terasa menyakitkan dan tidak membantu. Cara yang baik adalah menjelaskan tantangan yang sedang kamu hadapi sekarang dan mengapa itu sulit,” sarannya.
Dengan cara ini, metode baru yang dipilih orang tua muda bisa tetap dihargai dan dihormati.
Fenomena Gramnesia adalah tantangan komunikasi yang nyata antara generasi dalam keluarga. Alih-alih merasa tertekan, orang tua milenial perlu memahami bahwa lupa adalah bagian alami dari ingatan yang selektif.
Dengan mengutamakan komunikasi terbuka dan jujur, Anda dapat menjembatani perbedaan pandangan pengasuhan. Masing-masing generasi bisa saling menghargai pilihan satu sama lain, menciptakan suasana keluarga yang harmonis dan suportif bagi tumbuh kembang si kecil.




























