Musim Kemarau Basah di Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami musim kemarau basah pada pertengahan tahun 2025. Dengan demikian, masyarakat perlu bersiap menghadapi kondisi ini.
Kondisi ini bukan perpanjangan musim hujan, melainkan periode kemarau yang tetap serta curah hujan, meskipun dengan frekuensi lebih rendah. Oleh karena itu, fenomena ini dipengaruhi faktor global, salah satunya La Nina.
Selanjutnya, kemarau basah diperkirakan memberikan dampak signifikan, khususnya pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal dan tanah longsor. Maka dari itu, antisipasi dan mitigasi menjadi krusial.
Fenomena Musim Kemarau Basah
Musim kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih turun secara berkala selama musim kemarau. Umumnya, musim kemarau di Indonesia identik dengan cuaca panas, kering, dan minim hujan.
Namun demikian, pada kemarau basah, curah hujan tetap tinggi, meskipun frekuensinya berkurang dibandingkan musim hujan. Fenomena ini jelas mencerminkan anomali iklim yang berbagai sektor, terutama yang bergantung pada pola cuaca musiman, perlu antisipasi.
Faktor Utama Penyebab Kemarau Basah
Salah satu faktor utama pendorong terjadinya kemarau basah adalah kenaikan suhu permukaan laut, terutama di perairan sekitar Indonesia. Suhu laut yang lebih hangat menyebabkan peningkatan penguapan yang kemudian mendukung pembentukan awan konvektif dan memicu hujan. Kondisi ini tetap berlangsung meskipun Indonesia sedang dalam periode musim kemarau secara klimatologis.
Di sisi lain, fenomena iklim global seperti El Nino dan La Nina juga memiliki pengaruh besar terhadap pola cuaca di Indonesia. Ketika El Nino terjadi, suhu laut di wilayah Pasifik tengah dan timur mengalami pemanasan yang menyebabkan pergeseran pusat pembentukan awan ke arah timur.
Akibatnya, Indonesia cenderung mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Sebaliknya, saat La Nina berlangsung, pusat konveksi awan bergeser ke wilayah Indonesia, sehingga hujan masih turun meskipun kalender musim menunjukkan periode kemarau.
Dampak Musim Kemarau Basah
Kemarau basah memberikan dampak dua sisi. Di satu sisi, peningkatan ketersediaan air dapat menguntungkan sektor sumber daya air. Namun, bagi sektor pertanian, kondisi ini justru berpotensi merugikan.
Kelembapan tanah yang berlebihan dapat menyebabkan gagal panen, khususnya pada komoditas yang sensitif terhadap air seperti jagung, kedelai, dan kacang-kacangan. Selain itu, lingkungan yang lembap mendukung peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman.
Perubahan pola hujan yang tidak sesuai prediksi menyulitkan petani dalam menyusun jadwal tanam dan panen. Kondisi ini telah membawa dampak nyata dengan mengubah pola iklim tradisional yang selama ini menjadi acuan.
Untuk mengurangi risiko yang timbul, kita perlu memantau cuaca dan suhu laut secara berkala, serta menyampaikan informasi iklim yang akurat, cepat, dan mudah diakses oleh masyarakat, khususnya pelaku sektor pertanian dan kelautan.
Ciri-Ciri Kemarau Basah
Beberapa indikator utama menunjukkan terjadinya kemarau basah, menurut BMKG, antara lain:
- Hujan ringan hingga sedang masih turun, meskipun periode ini seharusnya adalah musim kemarau (umumnya antara April hingga September).
- Kelembapan udara tetap tinggi sepanjang hari.
- Tanaman tetap tumbuh subur meskipun minim penyiraman.
- Kondisi sungai dan embung relatif stabil dan tidak mengalami kekeringan ekstrem.
- Langit lebih sering berawan dibandingkan musim kemarau biasa yang cenderung cerah.
Perbedaan Kemarau Biasa dan Kemarau Basah
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau biasa di Indonesia umumnya berlangsung dari April hingga Oktober. Ciri khas kemarau ini adalah curah hujan sangat rendah, yaitu di bawah 50 mm per dasarian.
Selain itu, cuaca cenderung cerah, suhu udara meningkat, dan kelembapan relatif rendah. Akibatnya, dampak yang terasa meliputi kekeringan, penurunan pasokan air bersih, dan ancaman gagal panen di sektor pertanian.
Namun demikian, kemarau basah terjadi ketika hujan masih turun meskipun kalender menunjukkan musim kemarau. Berbagai faktor global dan regional memengaruhi fenomena ini, seperti La Nina, suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal, serta gangguan atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby.
Oleh karena itu, kelembapan udara tetap tinggi, pola cuaca menjadi lebih sulit diprediksi, dan aktivitas pertanian dapat terganggu. BMKG memperkirakan bahwa kondisi kemarau basah di Indonesia pada tahun 2025 akan berlangsung hingga sekitar bulan Agustus.